Lambang Negara Indonesia Burung Garuda, dewa atau Elang Jawa ?

Berita Bebas, BeritaBebasX, Burung Garuda, Elang Jawa, facebook, Hukum, Indonesia, kebhinekaan tunggal ika, kisah, Lambang Negara Indonesia, medsos, mengumpat lambang negara, Sejarah, Ulasan Berita,
Lambang Negara Indonesia Burung Garuda, dewa atau Elang Jawa ? – BeritaBebasX


Berita Bebas X, Indonesia
– Garuda Pancasila dikukuhkan menjadi lambang negara Indonesia sejak tahun 1950. Selaku lambang negara, Burung Garuda dilukiskan sedang menoleh ke arah kanan (dari sudut pandang Garuda) dan kedua kakinya mencengkeram pita bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika.

Walaupun telah diakui selaku lambang negara, perdebatan soal Burung Garuda tak jarang masih sering muncul. Apakah Burung Garuda itu cuma mitos atau memang betul ada di alam liar?

Kalau dilihat dari sejarah, masyarakat nusantara sudah sejak lama mengenal rupa Burung Garuda. Malahan jauh sebelum negara Indonesia berdiri, warganya telah mengenal Garuda lewat cerita pewayangan.

Dalam agama Hindu dan Buddha, Garuda adalah salah satu dewa. Burung perkasa ini adalah tunggangan Dewa Wisnu (salah satu Trimurti atau manifestasi bentuk Tuhan dalam agama Hindu). Garuda digambarkan bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah. Paruh dan sayapnya serupa elang, namun tubuhnya seperti manusia. Ukurannya besar sampai bisa menghalangi matahari. Kisah sang Garuda tertulis dalam kitab Mahabharata dan Purana yg bermula dari India.

SIMAK JUGA Berita Bebas Lainnya
Siapkah Indonesia selamatkan dunia Islam?
Indonesia perlu peta jalan industri buat jadi bangsa pemenang

Dalam mitologi Hindu, Garuda merupakan raja burung yg berasal dari keturunan Kasyapa dan Winata, salah seorang putri Daka. Garuda merupakan musuh bebuyutan para ular.

Lahirnya Garuda sebagai lambang negara dimulai dari 10 Januari 1950 saat dibentuk Panitia Teknis dgn nama Panitia Lencana Negara. Panitia teknis ini dikoordinatori oleh Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dgn formasi panitia teknis Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Poerbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara buat dipilih dan diajukan kepada pemerintah.

Mengarah keterangan Bung Hatta dalam buku ‘Bung Hatta Menjawab’ buat melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada cara selanjutnya yg diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak sebab menyertakan sinar-sinar matahari yg dianggap menampakkan pengaruh Jepang.

Garuda dari masa ke masa menurut wikipedia
Sesudah rancangan terpilih, dialog intensif antara Sultan Hamid II, Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan buat kepentingan penyempurnaan rancangan itu. Mereka bertiga setujuh mengganti pita yg dicengkeram Garuda, yg semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dgn menambahkan semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’.Tanggal 8 Februari 1950, rancangan lambang negara yg dibikin Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi buat dipertimbangkan kembali, sebab adanya keberatan terhadap gambar burung Garuda dgn tangan dan bahu manusia yg memegang perisai dan dianggap terlalu bersifat mitologis.

Sultan Hamid II lalu kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yg sudah disempurnakan berdasarkan aspirasi yg berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya ‘Sekitar Pancasila’ terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS pada tanggal 11 Februari 1950.

Saat itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih gundul dan tidak berjambul seperti bentuk sekarang ini. Presiden Soekarno setelahnya memperkenalkan buat pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.

Soekarno segera memperbaiki bentuk Garuda Pancasila. Pada tanggal 20 Maret 1950 Soekarno memerintahkan pelukis istana, Dullah, melukis kembali rancangan tersebut; setelah sebelumnya diperbaiki antara lain penambahan jambul pada kepala Garuda Pancasila, serta mengubah posisi cakar kaki yang mencengkeram pita dari semula di belakang pita menjadi di depan pita, atas masukan Presiden Soekarno. Dipercaya bahwa alasan Soekarno menambahkan jambul sebab kepala Garuda gundul dianggap terlalu mirip dgn Bald Eagle, lambang Amerika Serikat. Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara. Rancangan Garuda Pancasila terakhir ini dibuatkan patung besar dari bahan perunggu berlapis emas yang disimpan dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional sebagai acuan, ditetapkan sebagai lambang negara Republik Indonesia, dan desainnya tidak berubah hingga kini.

Namun di alam liar adakah Burung Garuda itu?

Menurut Ketua Perkumpulan Raptor Indonesia, Zaini Rakhman, pemerintah secara tidak langsung sudah mengakui bahwa Garuda itu adalah Burung Elang Jawa (Nisaetus bartelsi). Hal ini tertuang dalam Keppres Nomor 4 Tahun 1993 tantang Satwa dan Bung Nasional. Dalam Keppres yang diterbitkan Presiden Soeharto itu, Elang Jawa dikategorikan sebagai satwa langka.

“Jika mengacu pada pada Keppres No 4 Tahun 1993, Elang Jawa dijadikan Satwa Nasional. Alasannya pertama Elang Jawa itu mirip dengan Garuda dan yang kedua memang langka (saat itu),” ucap Zaini Rakhman, Berita Bebas ini didapat Sabtu (11-Maret).

Hal serupa pun diterangkan oleh Ketua Yayasan Konservasi Elang Indonesia, Gunawan. Menurut Gunawan, jika merujuk pada aturan di Keppres tersebut, Elang Jawa memang memiliki kemiripan dengan burung Garuda. Kemiripan ini misalnya pada jambul, dan warna bulu yang keemasan saat Elang Jawa masih muda.

“Kalau masih muda warna bulunya memang keemasan, semakin menua makin cokelat warnanya,” ucap Gunawan.

Dengan adanya Keppres tersebut Kementerian Kehutanan pun memiliki rencana dan strategi untuk meningkat populasi Elang Jawa di alam liar. Namun sayangnya, semakin dilindungi, keinginan warga untuk mengoleksi burung yang kini statusnya terancam punah itu semakin tinggi.

Data yang dimiliki Perkumpulan Raptor Indonesia, sensus tahun 2014-2015, jumlah Elang Jawa di alam liar ada 423 pasang. Tahun 2010, jumlahnya berkurang menjadi 325 pasang. Dan sensus terakhir 2015 yang hingga kini datanya belum lengkap, diperkirakan elang jawa di alam liar tinggal 300 pasang.

“Yang membuat jumlahnya semakin menurun tentu luasan habitat mereka yang terus berkurang di pulau Jawa. Dulu banyak hutan kini sudah ditebang dijadikan perumahan semua, kedua adalah maraknya perburuan dan perdagangan liar burung ini,” ucap Zaini.

Yayasan Konservasi Elang Indonesia pernah melakukan penelitian soal penjualan burung elang tahun 2015 lalu. Di tahun itu, tidak kurang 2471 burung elang diperdagangkan. Dari angka itu, 127 di antaranya adalah Elang Jawa.

“Sekarang dgn perkembangan teknologi jual beli itu dilakukan di media sosial dengan memanfaatkan grup-grup. Di tahun 2015 lalu, kita temukan 127 Elang Jawa diperjualbelikan secara bebas di 38 grup Facebook,” ucap Gunawan.

Meningkat perburuan dan perdagangan satwa langka ini sudah barang tentu mengancam kelestarian Elang Jawa. Tidak peduli elang jawa itu merupakan inspirasi lambang negara atau tidak, tetapi pelestarian burung yang hanya ditemukan di pulau jawa itu perlu tingkatkan. Sayangnya penegakan hukum bagi mereka yang memiliki atau memperjualbelikan secara tidak sah belum maksimal. Hal ini yang membuat perdagangan elang jawa dan elang-elang lainnya hingga kini masih marak.

“Padahal aturan dalam UU Nomor 5 tahun 1990 itu tegas, pidana penjara maksimal lima tahun atau denda Rp 100 juta. Kenyataannya tak pernah terealisasi dgn baik dan perburuan dan penjualan masih saja marak,” tutup Zaini. [BBX]
Sumber : BeritaBebasX | Blog yang di dedikasi untuk update berita bebas

via BeritaBebasX – Blog yang di dedikasi untuk update berita bebas

Advertisements