Curahan hati Presiden Soeharto ke Emil Salim Sebelum Makzul

presiden soeharto,  kisah, Tokoh, Presiden, Curahan hati Presiden Soeharto, Indonesia, Pemerintah, Curahan Hati, Berita Bebas, Ulasan Berita, BeritaBebasX,
Curahan hati Presiden Soeharto ke Emil Salim Sebelum Makzul – BeritaBebasX


BeritaBebasX
– Dikenal laksana presiden yg mempunyai gaya kepemimpinan lembut tapi tegas, Soeharto pun memiliki hal yg berbeda dari anggapan orang-orang terdekatnya selama menjabat sebagai petinggi negara. Contohnya menurut pantauan Emil Salim, mantan menteri di era orde baru.

Dalam buku Pak Harto: Sisi-sisi Yang Terlupakan, Emil mengutarakan tak sedikit kenangan bersama presiden kedua Republik Indonesia itu. Yg paling meninggalkan kesan terjadi saat pada 1993 silam, dirinya diundang Soeharto secara pribadi ke kediaman Cendana.

“Kami berbicara ber-2 saja. Sejak mula pertemuan Pak Harto bercerita berkenaan budaya Jawa. Dari anggapan saya ceritanya panjang lebar dan saya tak memahami maksud Pak Harto sebetulnya. Ternyata cerita panjang tersebut merupakan pengantar. Intinya cuma mau mengabarkan bahwa saya tak bakal masuk lagi dalam kabinet selanjutnya,” kata Emil.

Ia menyatakan kelegaannya. Karna selama Emil menjadi menteri ada rasa jenuh dan kreativitas yg mati dalam dirinya. Istrinya juga mengidamkan kehidupan yg kembali biasa, sebab sejak menjabat jadi menteri, mereka tak lagi dapat makan dipinggir jalan. Dan banyak wartawan yg mau memotret.

SIMAK JUGA Berita Bebas Lainnya
Sebab Istiqlal dibangun di depan Gereja Katedral
Polisi jelaskan berita pencatatan para kiai dikaitkan PKI adalah hoax

“Kami merasa kehilangan kehidupan sebagaimana layaknya manusia biasa,” kata dia di hadapan Soeharto ketika itu.

Tapi siapa mengira, saat banyak orang menganggapnya dingin, sosok yg familier disapa Pak Harto itu mendengarkan dgn seksama tiap kalimat yg diutarakan pria kelahiran 6 Juni 1930 itu. Sampai-sampai dia juga tidak menyangka, jawaban atas keluh kesahnya cukup menyentuh Soeharto. Sesudah itu giliran Pak Harto yg curhat ( Curahan Hati )kepada Emil.

“Saya pun telah capek,” kata Soeharto. “Ibu Tien telah berkali-kali meminta supaya saya lengser keprabon. Saya sendiri pun sadar telah waktunya buat mengundurkan diri.”

Dari percakapan mereka pada hari itu, Emil menangkap kecenderungan Soeharto tidak mau lagi menjadi presiden pada masa berikutnya. Benar saja, beberapa bulan kemudian almarhum sempat memanggil Dewan Pembina Partai Golkar buat menyarankan supaya lebih dulu dilakukan survei buat menilai apakah bijaksana kalau Pak Harto tiba-tiba berhenti.

“Alih-alih, stlah itu mereka lalu mengajukan hasil survei yg isinya 92 persen responden menghendaki Pak Harto tetap jadi presiden. Namun jauh dilubuk hati saya, yg telah bicara hati ke hati (Curahan Hati) bersama beliau, saya tetap yakin bahwa sebetulnya 93 persen hati kecilnya telah mau berhenti,” kata dia.

Emil mengatakan cuma saja pada saat itu, kondisinya kawan-kawan politik Soeharto slalu mengipas-ngipasi supaya ia bersedia lagi menjadi presiden.

15 tahun pertama masa pemerintahan Soeharto menurut Emil merupakan masa kepemimpinan terbaiknya. Sebab di masa itu, presiden yg mempunyai orientasi yg jelas, dgn hati terhambat pada pembangunan pedesaan. Terlepas dari itu, Emil selalu menilai siapapun secara kritis dan berimbang.[BBX]

(sumber: Pak Harto: Sisi-Sisi yang Terlupakan, tahun 2014)
Sumber : BeritaBebasX | Blog yang di dedikasi untuk update berita bebas

via BeritaBebasX – Blog yang di dedikasi untuk update berita bebas

Advertisements