Sebuah Tanda buat Tidak Menangis lantaran berpisah

kenapa jatuh cinta, Cintakah ini, kisah, tak disangka, tidak menangis lantaran berpisah, Kejadian,
Sebuah Tanda buat Tidak Menangis lantaran berpisah – BeritaBebasX


Berita Bebas X
– Masih ingat, kala itu senja tengah lugu, dan daun-daun yg gugur digembala angin muson, mengarah musim penghujan–tempat petrichor dihujani pujian. Sore itu kita bertemu, dan dua cokelat panas menutup suara kita. Atau sebenarnya, khawatirku yg tak mau bicara.

Aku tak bisa membedakan, karena yg kutahu, aku cuma mau diam dan mencuri aroma tubuhmu tanpa jera, selama bisa. Karna memang, seumpama perlu dipaksa bicara, cuma harapan yg bakal tersampaikan, dan kutahu, itu tak bakal membuatmu nyaman. Sore kala itu cukup dingin, dan kain rajut hadiah dariku yg membalut tengkukmu, kuharap dapat menyampaikan hangat, yg bisa saja tak pernah sempat aku berikan. Karena bagaimana jika, sore ini adalah yg terakhir kalinya kita berjumpa? Sedapat mungkin, aku perlu siap dgn kemungkinan itu, bukan?

Lalu perlahan, sang surya mati dgn jemawa, diselimuti pendar cahaya, di mata yg terlalu takut menunjukan yg sebenarnya. Senja pergi bersama kesedihan yg tertahan. “Tak boleh ada airmata buat sebuah perpisahan”, kata hatiku. Entah siapa yg pantas dikatakan pergi, kau yg bakal menikah dgn seseorang yg kau pilih, atau aku yg tetap menjadi pecundang, malah sampai di kesempatan terakhir yg kupunyai. Tapi yg kutahu, cinta seharusnya membahagiakan, bukan? Untuk itu kubiarkan kau bahagia dgn pilihanmu.

SIMAK JUGA Berita Bebas Lainnya
Gula, Lawan sekaligus senjata rahasia kecantikan
Tips Hilangkan Bau Badan Walau Berkeringat Banyak, Dengan Jus

“Sampai kapan, kita bakal diam begini?”, katamu, membangkukan lamunanku. “Kau masih ingat awal perkenalan kita?”, tanyaku, terkejut. “Iya, waktu itu aku masih siswa baru, dan tersesat di koridor sekolah hahaha!”, kau tertawa. “Lalu kamu datang dgn sikapmu yg dingin, menarik tanganku, dan membawaku ke dalam kelas. Waktu itu kamu ketua kelas, kan?”, lanjutmu. Aku cuma bisa tersenyum. Lalu kau terdiam, menatap bias lampu jalan lewat jendela.

“Aku rindu situasi kala itu”, katamu. “Aku pun rindu, setiap perbincangan kita di atap sekolah”, sahutku. Seketika itu juga, kau menatap mataku dalam. Ada pertanyaan yg tak dapatku terka di kerut keningmu. Kita sama-sama diam. Lalu perlahan-lahan kau melepas gelang akar yg pernah kuberikan, dari lenganmu. “Ini aku kembalikan, maaf, kamu tak berhasil membuat takdirmu sendiri”. Katamu .

“Jaga dirimu baik-baik”.

Sambil memakaikan gelang itu di lenganku. “Aku pamit”. Beberapa tahun yg lalu, di sebuah atap gedung sekolah. Langit begitu cerah kala itu, dan mukaku semerah saga saat memakaikan gelang akar yg kubuat, di lenganmu. “Aku bakal membuat takdirku sendiri. Kelak, kita bakal menikah, dan buat sementara biarkan gelang ini mengikat nadimu, sampai kamu menjadi takdirku”, aku tersenyum kala itu, dan meninggalkanmu di atap dgn sebuah tanda tanya.

Hari ini, aku berdiri tepat di hadapanmu. Gaun biru dan kulit putihmu, serupa langit dan awannya. Perlahan tapi pasti, cuma tinggal beberapa langkah lagi, kau bakal pergi meninggalkanku dgn sebuah tanda tanya. “apa kau bahagia?”. Senyummu merekah, seakan mengajakku buat ikut bahagia.

Dan tanpa disadari, aku menanggapi senyummu, tanpa resah. Faktanya kau berhasil menyerahkan alasan, supaya tak menangis sebab perpisahan. Tepat seperti pertemuan terakhir kita, beberapa hari yg lalu. Ketika senja telah ranum, bersama dua cangkir cokelat panas, dan sedikit pandang yg berbalas, kau melepas gelang akar yg pernah kuberikan. “Ini aku kembalikan, maaf, kamu tak berhasil membuat takdirmu sendiri”.

Katamu. “Jaga dirimu baik-baik”. Sambil memakaikan gelang itu di lenganku. “Aku pamit”. “Baiklah, tapi berjanjilah kepadaku buat terakhir kalinya, beri aku satu alasan buat tidak menangis karena perpisahan”. Aku menahan lenganmu yg hendak beranjak. Kau hanya tersenyum lirih, dan pergi. Dan senyummu hari ini, mungkin buat terakhir kalinya. Tapi alasanmu tersenyum, bakal menjadi alasanku buat tak menangis karena perpisahan.

“Terima kasih, sudah menepati janji”, kataku lirih, sebelum akhirnya aku pergi.
Sumber : BeritaBebasX | Blog yang di dedikasi untuk update berita bebas

via BeritaBebasX – Blog yang di dedikasi untuk update berita bebas

Advertisements